B agi seorang yang hobi memancing, ada dua pertanyaan penting yang harus dijawab. Pertama, di mana kamu memancing? Jika Anda menjawab di kolam ikan, waduk, sungai atau danau, bagi pemancing tertentu, Anda belum dianggap sebagai pemancing sejati. Kalau Anda menjawab di laut, Anda baru diakui sebagai pemancing. Jika Anda jawa seperti itu, mungkin Anda akan ditanya: Sudah pernah kena badai? Jika Anda jawab belum, maka mungkin Anda akan dicandai: Ah, kurang afdol.
Foto-foto berikut adalah saat saya sedang memancing di daerah Tual, maluku Tenggara. Dari Tual, kami harus berkendara naik mobil menuju ke sebuah pelabuhan kecil. Dari pelabuhan itu, kami harus berlayar menuju sebuah pulau persinggahan selama 4 jam. Di pulau persinggahan itulah, kami akan beristirahat sejenak, mencari umpan, sambil menunggu malam tiba. Ketika malam tiba, kami berangkat.
Saat itu adalah bulan Desember tahun 2005, masih musim teduh tetapi menjelang musim badai. Sebetulnya sudah ada isyarat bahwa kami tidak boleh berlayar malam itu. Angin menderu keras sekali dan beberapa bagian perahu untuk memancing mengalami kerusakan. Tetapi karena tekad yang bulat dan karena sudah terlalu jauh kami menempuh perjalanan, kami bertekad tetap memancing.
Setelah 4 jam berlayar lagi, kami membuang sauh. Satu demi satu ikan-ikan kami dapat. Tetapi sial, begitu jam 04.00 pagi, mesin kapal kami mati. Lebih sial lagi, hujan datang dan badai menerpa.
Sampai siang, tidak ada kapal yang melewati perahu kami, maklum hari itu hari minggu. Semua sudah panik. Tetapi untung, tepat pada pukul 12.00, sebuah kapal nelayan datang. Akhirnya kami tertolong. Hmm… dan seterusnya, nyam-nyam… bakar ikan hasil tangkapan, lalu makan!
|